MENULIS, MENJADI BERKARAKTER

Sabtu, 18 Mei 2013
PENDEKAR


Berkarakter?? menurut anda apa itu karakter? Kl boleh diringkas, karakter itu seperti Umar dan Abu Bakar As -sidiq, atau seperti Asma? Dan contoh manusia paling berkarakter bisa saya bilang Muhammad SAW. Mereka kan manusia langit. Ok, saya beri contoh lagi. Soekarno, Cut Meutia, Kartini, Habibie, Soe Hok Gie, Che Guevara. Siapa lagi? ibu kita Ustdah Yoyoh Yusroh, Ustad Fathi Yakan, Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Sa'id Hawwa, Abdurahman Wahid, Ustad Lutfi H. Ishaq. masih kurang? ok satu lagi, dan Ibu Bapak ku. hehehe

Kemudian begini, ketika kita memliki ide untuk berbuat sesuatu, bagaimana menyebarkan virus ide tersebut kepada orang lain? Lalu bagainama seorang Eko Presetyo dapat “pengikut” dari ide-idenya tersebut? Bisa jadi berawal dari menulis. Akifitas menulis nyatanya memberikan efek yang luar biasa. Lihatlah Aidh Al Qarni yang sukses menciptakan buku La Tah Zan, saat itu ia menulis buku tersebut dibalik jaruji.  Efeknya banyak orang yang terobati dengan nasihat di bukunya. Yusuf Mansur misalnya, dalam bukunya yang judul Mencari Tuhan yang Hilang, yang menjadi best seller, tentang hakikat hidup dan kehidupan. Begitupun dengan Pramoedya Ananta Toer menuliskan novel juga dari balik jeruji.

Mereka adalah sosok yang berkarakter. Sejatinya mereka menyalurkan kegundahan yang mereka rasakan untuk membangun tatanan sosial yang baru. Yang mengintegrasikan pada keadilan dan mensejahterakan.  Memang tidak semudah membalikan tangan. Menjadi PR bersama yang tak dapat di biarkan. Untuk itu tugas kita (baca : Pemuda) kembali menorehkan catatan emas untuk bangsa ini dengan menjadi pemuda yang memiliki karakter. Untuk menyebarkan virus itu salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menulis.

Menulis tidak hanya bermodalkan buku dan pena saja, atau laptop saja. Itu hanyalah sarana saya kira. Tetapi menulis membutuhkan idealisme dan identitas, intelektualitas yang mumpuni untuk bisa diterima di banyak kalangan. Bagaimana kita membaca permasalahan di tataran sosial kalau belum memiliki intelektualitas yang kuat. Intelektualitas disini dapat ditinjau dari segi kemampuan memecahkan problematika, kemampuan menyalurkan ide. Untuk itu tidak bisa dipisahkan dengan aktifitas membaca. Karena dengan membaca kita memiliki data kongkrit bagaimana sepak terjang mereka untuk memecahkan masalah dalam buku-buku yang mereka ciptakan.  

Ada satu kalimat yang masih saya ingat saat mengikuti Stadium General FKAPMEPI DIY kemarin, di sampaikan dalam sambutannya Pak Imam, yang sangat menginspirasi saya dan bisa jadi termasuk diri anda, begini: -maaf kalau ada kekeliruan-

Kaum muda, lahir dari rahim peradaban
degup jantungnya adalah kegundahan, nafasnya adalah perbaikan
Maka aktifitasnya adalah perubahan

0 komentar:

Poskan Komentar